Fish

Rabu, 30 Januari 2013

Lumayan buat uji adrenalin awaq

hai gan... mulai lagi ne aku nulis cerita-cerita ga jelas,, hehhehe,, sebenrnya jelas koq,, cuma aku nya aja yg sengaja buat agak alay bentuknya,,..
ok.. kali ini aku mau crita tentang pengalaman yg waowww,,, (ga terlalu juga sih hahah),,.. kemaren hari selasa tepatnya tgl 29 januari 2013,, aq survey tempat penelitian... disuruh dosennya sih ke kledung aja,,  tpi terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan...
okk.. pagi itu aq dan mas satu kos q dah siap2 tuk capcus brgkt ke tempat survey.. kata temenku si mb cuwa ktnya lewat arah Bandungan-Sumowono-Temanggung-Parakan-Kledung...
BEGITULAH kira2 rutenya yang tadinya sudah direncanakan,,.
diperjalanan... nyampek deh di depan pintu gerbang Bandungan..
 waow jalannya man,,, sesuatu bgt.. belok kanan., belok kiri,,, dilanjut lagi ke daerah Sumowono.. tantangan mulai meningkat,, kayak main game aja deh perasaan pikir awaq nue,,, jalan nya makin ekstrimmmm,,..kayak begini nih kra2 bentuknya,,

 haha,, capeknya,... sampek terpikir ma awaq sejenak,, kapanlah nyampeknya.. dan kapan lah pula berakhir penderitaan ini(hahaha,, lebay)...
dan nyampeklah kita di daerah Parakan.. kita berhenti di salah satu pom bensin,, bukan ngisis bensin man,, tapi ngasih setoran,, alias pipis (ahahhah,, lumayan gratiss ahahahah)...
lanjut lagi perjalanan,, dan khirnya nyampek di daerah Kledung.... dah suhu makin dingin,, jalan semakin lama semakin mentel alias belok kanan belok kriri,,, naik lagi,, turuuuuuunnnnn,,,.. naiiiikkkkk.....kebanyakan naik seh,,..
di daerah Kledung,, kita ga nemu tuh tanaman yg kita cri,, beberapa org yang kita tanya sewaktu diperjalanan sih,, mendingan ke arah Wonosobo aja mas,, disana lebih banyak(hhmmm pikir awaq dah yg laen2 lge nue)...
kita pun lgsg menuju ke daerah Wonosobo.. sempat terpikir oleh awaq.. ne daerah perasaan ga ada waktu siang nya ya.. adem muluk perasaan,, ada matahari juga ga terasa,, (aahahhaha,,namanya juga daerah pegunungan)... hhhmmm setelah berlama-lama.. akhirnya kita nyampek juga di Wonosobo,, dan akhirnya kita dapet juga salah satu petani,, kita kerumahnya,, trus di juuamu...sama bpknya,,, trus ngobrol ngalur ngidull tauk deh apa yang diomongin,, hehehheh,,, cuma litle2 deh pkoknya,,,,
awaq minta cp bpknya,,, yar ntr waktu panen,, awaq lgsg dtang ke situ (Wonosobo mksd ane)...
Trus kita nekat ne,,,, lanjut maju lage ke depan,, eh eh eh ternyata eh ternyata kita nemuin gerbang dieng
plateu,,, hhmm sumpah... seneng buangettttt,,,(lebay)... dari dulu awaq pengen ke sini,,,,


 trus kita maju lage,, eh ketemu tempat pariwisata telaga warna,,, huhuhuhuhuh.... maknyos bgt deh pkoke...
kita beli tiket,,, trus masuk,, eh bru masuk malah hujan gerimis oh gerimis... tpi ga lama koq hujannya,, trus jalan2 deh muter2 di daerah tuh.... sayang g bawa kamera... hhmmm besok deh waktu ambil sampel ke situ lagi,,,

abis tuh kita pulang,, niatnya mau ke kota dulu,, eh kita malah nyasar ke daerah Banjarnegara coba... bayangin agan agan....
dah jalannya menurun.. turs menaikkkk... wehhhh,... pengen muntah rasanya...
tak lama akhirnya ketemu juga tuh kota Wonosobo,,,, hhhmmm,,, berhenti sejenak,, dan singgah di rumah makan,, mi ongklok,, makanan khas wonosobo,,,
trus kita juga beli oleh2,, yaitu buah carica(pepaya gunung yang udah dibuat olahan manisan)...


ga lama2 makannya kita lgsg bablas capcus tarik untuk ke semarang... akhir kata,, kita nyampek kos jam 8 malam....
kaki ne rasanya masih berada di atas motor,, alias ngangkang abis,,,ahahhahah,,,,...
dah dlu ya crita awaq ne,,, jika ada kata2 yag salah mhon awaq dimaafkan,,,, thx... :-)

Jumat, 21 Desember 2012

Diversitas bioekologi Crustaceae

DIVERSITAS BIOEKOLOGI CRUSTACEAE : KELAS BRANCHIOPODA DAN KELAS OSTRACODA
Makalah ini disusun untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah carsinologi
Disusun oleh :
Edi Purnomo                         (24020110120040)
Muhammad Aziz                  (24020110120041)
Tyas Susiana                         (24020110130043)
Wisnu Adi Wicaksono        (24020110130057)
Eko Budi Harto                     (24020110130059)
Olivia Nisa. M                      (24020110130062)


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012

BAB I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Salah satu hewan yang termasuk dalam avertebrata adalah filum crustacea. Crusta berarti kulit keras, kerak di alam terdapat sekitar 40.000 spesies mencakup jenis-jenis copepoda, udang dan kepiting. Ukurannya bervariasi mulai dari 0,1 mm sampai 60 cm. Demikian juga dengan bentuk tubuh mulai dari panjang sampai yang bulat. Sebagian besar hidup crustacea di laut, 13% di air tawar dan 3% di darat untuk filum crustacea, ada yang bersifat plankton baik itu sebagian hidupnya sebagai plankton (namo plankton) atau seluruh hidupnya bersifat plankton (scolo plankton). Ada juga bersifat benthos, baik sebagai spesies interstisial maupun makroskopis. Ada juga hidup sebagai pasarit contohnya copepoda dan rebon. (Brusca, 1990).
Brachiopoda  berasal dari kata brachys yang berarti  pendek  dan  pous yang artimya kaki. Jadi Brachiopoda adalah hewan laut yang hidup didalam setangkup cangkang terbuat dari zat kapur atau zat tanduk. Mereka biasanya hidup menempel pada substrak dengan semen langsung atau dengan tangkai yang memanjang dari ujung cangkang (Suhardi, 2002)
  Brachiopoda memiliki kemiripan yang berbeda dengan Mollusca jenis Bivalvia di mana pada bagian terlindungi secara eksternal oleh sepasang convex yang dikelompokkan ke dalam cangkang yang dilapisi dengan permukaan yang tipis dari periostacum organik, yang berkisar hingga 100 tahun yang lalu (invertebrata palaeontologi). Hewan Brachiopoda merupakan kelompok hewan lain selain Ectoprocta yang terkait  dengan fosil-fosil dari zaman Cambria. Hewan tersebut dinamakan demikian karena anggapan yang salah bahwa hewan ini menggunakan lengan-lengan mereka yang menggulung untuk bergerak. Dalam kelompok ini lebih  banyak yang menjadi fosil dari pada  yang masih hidup  (Aslan, dkk., 2010).

B. Rumusan masalah
            1. Apa yang dimaksud dengan biodiversitas bioekologi Crustaceae ?
            2. Bagaimana biodiversitas bioekologi crustaceae kelas Branchiopoda ?
            3. Bagaimana biodiversitas bioekologi crustaceae kelas Ostracoda?
C. Tujuan
            1. Menjelaskan tentang biodiversitas bioekologi crustaceae
            2. Menjelaskan secara umum biodiversitas bioekologi crustaceae dari kelas  
                Branchiopoda
            3. Menjelaskan secara umum biodiversitas bioekologi crustaceae dari kelas Ostracoda
D. Manfaat
            Memberikan pengetahuan tentang biologi crustaceae khususnya biodiversitas bioekologi dari kelas Branchiopoda dan kelas Ostracoda.




















BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Diversitas bioekologi Crustaceae
     Keragaman adalah gabungan antara jumlah jenis dan jumlah individu masing – masing jenis dalam satu komunitas.(Desmukh, 1992). Istilah diversitas dalam ekologi umumnya mengarah pada keanekaraman jenis. Selain itu diversitas juga merupakan suatu keragaman / perbedaan diantara anggota-anggota sekelompok populasi baik hewan maupun tumbuhan. (Mc Noughton,dkk.1978).
Dalam ekosistem masalah diversitas umumnya mengarah pada diversitas jenis, oleh karena itu pengukuran diversitas dilakukan dengan melihat jumlah jenis tertentu dan kelimpahan relatif jenis tersebut dalam satu komunitas. Keanekaragman atau diversitas ditentukan oleh dua komponen yakni jumlah spesis organisme dalam komunitas dan jumlah individu antara spesis sama atau seimbang. Stabilitas satu ekosistem sangat ditentukan oleh struktur vegetasi satu ekositem. Sedangkan Keanekaragaman jenis adalah keanekaragam mahkluk hidup yang diukur dari jumlah total jenis baik binatang, tumbuhan , mikroorganisme di muka bumi (Masyud, 1992) menyatakan satu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi apabila kelimpahannya sama banyak atau hampir sama dari jenis yang ada (Brower et all, 1984).
Keragaman hayati adalah keanekaragaman diantara mahkluk hidup dari semua sumber termasuk diantaranya daratan, lautan dan ekosistem akuatik lain serta komplex-komplex ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamnnya, mencakup keanekaragaman dalam spesis antara spesis dan ekosistem (Mc Noughton,dkk.1978). Keragaman hayati lebih besar bilamana ekuitabilitas lebih besar yakni jika polulasi satu dan lainnya sama dalam kelimpahan dan bukan beberapa sangat umum, sedangkan lainnya sangat jarang (Desmukh, 1992). Odum (1971) menyatakan keanekaragaman jenis mempunyai sejumlah komponen yang dapat memberikan reaksi secara berbeda-beda terhadap faktor-faktor geografi, perkembangan maupun fisik komponen utama dari keanekaragaman jenis adalah kekayaan jenis dan kesamarataan (Eveness).
Diversitas jenis menyatakan banyaknya jenis perunit areal tertentu sedangkan diversitas genetik menunjukan jumlah gen alel dalam populasi. Umumnya diversitas jenis maupun genetik sangat tinggi pada wilayah-wilayah yang berbeda geografisnya, dimana pada lingkungan yang tidak seragam secara spasial akan memberikan kesempatan untuk lebih mengganggu seleksi dan kemudian spesialisi, baik diversitas spesies maupun genetik tetap cukup tinggi
Berkurangnya keanekaragaman hayati akan mempunyai dampak negatif yang cukup besar diantaranya akan mempengaruhi ketahanan/stabilitas ekosistem terhadap goncangan faktor luar, berpengaruh pada kemampuan untuk memproduksi tanaman baru, serta mempengaruhi kepastian masa depan untuk kebutuhan generasi akan datang (Djuwantoko, 2004).
Salah satu teori bioekologi yang sangat terkenal dari pendekatan sosiokultural adalah Teori Bioekologi dari Urie Bronfenbrenner. Teori ini menggambarkan tentang tingkatan interaksi yang dapat mempengaruhi perkembangan individu. Menurutnya perkembangan terjadi melalui proses interaksi yang regular, aktif, dua arah antara individu dan lingkungan sehari-harinya. Proses ini terjadi dalam lima sistem lingkungan yang saling berkaitan,yaitu:
1. Mikrosistem
Merupakan sistem terdekat dengan individu, dimana individu terlibat dalam interaksi dua arah dengan orang lain dalam basis kehidupan sehari-hari dan menjadi agen sosialisasi. Sistem ini terdiri dri keluarga (orang tua), teman sebaya, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan tempat ibadah.

2.Mesosistem
               Merupakan sistem yang menghubungkan dua atau lebih mikrosistem dimana individu terlibat didalamnya. Misalnya: hubungan antara keluarga denagn teman sebaya, terjadi konflik nilai-nilai yang ditanamkan orang tua dengan nilai-nilai teman sebayanya. Dalam sistem ini dapat terlihat sikap dan perilaku yang berbeda dari satu individu dalam setting lingkungan yang berbeda.

3.Eksosistem
                  Terdiri dari dua atau lebih sistem yang saling berhubungan, namun tidak mempengaruhi individu secara langsung.

4.Makrosistem
                   Merupakan sistem dari pola-pola kebudayaan yang mencakup seluruh mikro, meso dan eksosistem masyarakat seperti sistem perekonomian dan budaya (kapitalisme, sosialisme).

5.Kronosistem
                   Menunjukan derajat kestabilan dan perubahan dalam dunia dimana individu berada. Misalnya perubahan komposisi keluarga hingga perubahan dalam lingkup yang lebih besar seperti peperangan, mobilitas kelas sosial
.
                Habitat crustaceae terutama di air , yaitu di danau, laut dan sungai. Crustaceae yang paling umum adalah kepiting dan udang.

2.2 Kelas Branchiopoda
Merupakan berbagai kelompok crustacean kecil yang umumnya berukuran beberapa milliliter,  terkecil 250 mikron dan  terbesar 10 cm. Mudah dikenal dari bentuk  apendik  badan  yang  lebar  dan  pipih  berfungsi  seperti  insang  sehingga dinamakan  brandchiopoda,  disamping  itu  juga  untuk  menyaring  makanan  atau sebagai alat renang.
Kelas Branchiopoda merupakan crustacea kecil ukurannya 250 mikron terbesar 10 cm. Bentuk apendix badan yang lebar dan pipih berfungsi sebagai insang, menyaring makanan dan alat renang olehnya dinamakan branchiopoda. Tidak mempunyai cephalothorax   23artinya tidak ada ruas badan yang tubuh menyatu dengan kepala. Secara morfologis ruas badan sama. Ruas-ruas di anterior gonopone adalah thorax dan yang diposteriornya adalah abdomen. Hampir semua branchiopoda di perairan tawar, ada juga di air laut seperti cladocera. (Brusca, 1990 ; Ruppert, 1994).
Kelas Branchiopoda  dibagi menjadi  4  ordo  yaitu Anostraca, Notostraca, Conchostraca  dan  Cladocera  atas  dasar  bentuk  tubuh,  karapas,  mata  majemuk, ruas-ruas tubuh dengan apendiknya. Branchiopoda berbeda dengan crustacean lain karena tidak mempunyai cephalothorax, artinya tidak ada ruas badan yang tumbuh menyatu dengan kepala.
1.  Morfologi
Ruas  badan  (trunk) yang pertama adalah  ruas yang mempunyai  sepasang kaki pertama. Secara morfologis semua ruas badan bentuknya sama. Batas antara thorax  dan  abdomen  tidak  jelas,  adakalanya  letak  gonopore  digunakan  sebagai batas. Ruas-ruas  di  anterior gonopore  adalah  “thorax” dan  yang  di  posteriornya adalah “abdomen”. Hampir semua branchiopoda hidup diperairan  tawar, dan  hanya beberapa spesies  dari  Cladocera  terdapat  di  laut.  Dari  keempat  ordo  tersebut  hanya Cladocera yang penyebarannya  luas,  terdapat di  sungai, kolam besar, dan danau. Sedangkan  anostraca  dan  notostraca  merupakan  organisme  yang  khas  di lingkungan perairan yang tidak lazim seperti kolam kecil, genangan air sementara pada  musim  hujan  dan  danau  garam.  Hal  ini  disebabkan  oleh  kemampuan organisme  tersebut  untuk  menghasilkan  telur  dorman  (resting  eggs)  yang memerlukan waktu  istirahat dan dapat bertahan pada suhu  tinggi dan kekeringan bahkan ada yang dapat bertahan sampai 10 tahun.


Gambar 1 : a. Anostraca b. Choncostraca c. Cladochera d. Notostraca
 
 






Ordo  Anostraca,  Notostraca  dan  Conchostraca  acapkali  dikelompokkan sebagai  divisi  Eubranchiopoda  atau  Phyllopoda  karena  bentuk  apendiknya  yang lebar  dan  lembut.  Semua anggotanya  mempunyai  ruas-ruas  tubuh  yang  jelas dengan  jumlah apendik antara 10  sampai 71 pasang. Di ujung posterior  terdapat sepasang  cercopoda  (caudal  rami,  furca).  Dalam  lingkungan  yang  sesuai populasinya kebanyakan betina, jantan sedikit atau jarang.
Anostraca  disebut  juga  huhurangan  atau  fairy  shrimps  mempunyai mata bertangkai;  biasanya  terdapat  20  ruas  badan  atau  lebih  dengan  11  sampai  19 pasang  kaki  renang;  tidak mempunyai  karapas;  antena  pertama  kecil,  uniramus dan  tidak  beruas-ruas;  antena  kedua  pada  jantan  besar  dan  berfungsi  untuk memegang betina pada waktu kopulasi.
Notostraca mempunyai karapas lebar seperti tameng yang menutup hampir seluruh  tubuh,  sehingga  dari  dorsal  tampak  seperti  berudu  katak  sedangkan  dari ventral  seperti  udang,  sehingga  dinamakan  tadpole  shrimps.  Notostraca mempunyai 35 sampai 71 pasang kaki; mata majemuk sessile; jumlah ruas badan dan  jumlah  kaki  dalam  satu  spesies  tidak  tetap;  antena  kedua  kecil  sekali  atau tidak  ada;  pada  satu  atau  dua  pasang  kaki  pertama  terdapat  beberapa  helai  rami seperti benang diduga sebagai alat peraba; kaki ke sebelas pada betina mengalami modifikasi menjadi semacam kantung untuk mengerami telur. 
Conchostraca mempunyai  tubuh yang pipih secara  leteral dan tertutup dua keping  cangkang  yang  terbuka  dibagian  ventral  mirip  kerang  atau  remis  kecil sehingga disebut clam shrimp; terdapat sepasang mata majumuk bertangkai; kaki 10  sampai  32  pasang;  antenna;  antena  kedua  panjang,  biramus  dengan  banyak setae; satu atau dua pasang kaki pertama pada jantan berfungsi seperti tangan dan berkait; betina mengerami telur dibagian dorsal antara tubuh dan karapas.
2.  Fisiologi
Anostraca  dan Notostraca  berenang  dengan  lemah  gemulai  dan  anggun, lambat  dan  cepat,  atau  beristirahat  di  dasar  perairan.Kaki  yang  banyak  dan langsing  atau  beristirahat  di  dasar  perairan.Kaki  yang  banyak  dan  langsing merupakan  alat  renang.  Anostraca  mempunyai  kebiasaan  berenang  terbalik.
Notostraca acapkali merayap atau meliang pada permukaan subtract yang  lembut. Pada Conchostraca,  antenna  kedua merupakan  alat  renang  utama,  sedang  kaki-kaki kurang berperan. Conchostraca acapkali meliang atau merayap dengan kikuk di permukaan substrat.
a.  Makanan dan Cara Makan 
Makanan Eubranchiopoda terdiri atas ganggang, bakteri, protozoa, rotifera dan serpihan detritus. Makanan disaring dengan apendik tanpa diseleksi, dikumpulkan dan digumpalkan dalam alur  tengah ventral  samping  sepanjang badan, kemudian dialirkan ke anterior  terutama mengunakan gnthobase,  yaitu  bagian dari pangkal kaki.
b.  Reproduksi
Reproduksi  aseksual  tidak  ada.  Umumnya  berkembang  biak  secara parthenogenesis. Namun  bagi  spesies  tertentu  pada  saat  bersamaan  terjadi  baik reproduksi  secara  parthenogenesis  maupun  singamik  terjadi  kopulasi  dan pembuahan di dalam. Telur yang telah dibuahi dan telur parthenogenesis dierami oleh  betina  selama  beberapa  hari. Beberapa  jenis  phyllopoda menghasilkan  dua macam  telur,  bercangkang  tipis  yang  secara  meretas  dan  telur  dorman bercangkang  tebal  yang  tahan  panas,  dingin maupun kekeringan. Kedua macam telur tersebut  dapat terjadi baik ada jantan maupun tanpa jantan dalam populasi. Perkembangan  embrio  dalam  telur  mulai  terjadi  selama waktu  pengeraman, kemudian dilepas ke air kelompok demi kelompok dengan selang waktu 2 sampai 6  hari.  Telur  menetas  menjadi  larva  nauplius  atau  metanauplius  tergantung spesiesnya.
3.  Nilai Ekonomis
Musuh utama phyllopoda adalah amfibi dan beberapa  jenis larva serangga air dan karnivora. Di California pernah terjadi kerusakan tanaman padi oleh Apus (ordo Notostraca), yang memakan daun padi muda dan  terus menerus mengaduk Lumpur sehingga air mengeruh dan menghalangi fotosintesa. Telur artemia dapat diperdagangkan karena napliusnya merupakan makanan awal yang baik bagi anak ikan atau udang dalam usaha pembenihan.
Ordo Cladocera dinamakan  juga water  flea merupakan  satu-satunya ordo dalam  divisi Oligobranchipoda. Artinya  kaki  yang  juga  berfungsi  seperti  insang jumlahnya sedikit, hanya 5 sampai 6 pasang. Kebanyakan cladocera berukuran 0,2 sampai 3 mm; ruas-ruas tubuh tidak  jelas; biasanya thorax dan abdomen tertutup kerapas  yang  tampak  seperti  2  keping.  Sebenarnya  kerapas  tersebut  bukan  dua keeping tetapi hanya satu helai yang melipat dan terbuka dibagian ventral; bagian ventral kepala tertutup rapat. Bentuk cangkang dari lateral bervariasi dari bundar, oval,  memanjang  atau  persegi.  Permukaan  cangkang  acapkali  berukir  seperti garis-garis, kotak-kotak atau bentuk lain. Bentuk  tubuh  cladocera  bervariasi  selain  dari  bentuk  cangkang  atau karapas  yang  berbeda,  juga  oleh  perbedaan  bentuk  antenul,  fornix  dan  ada tidaknya  rostrum. 
Pada  kepala  terdapat  sebuah  mata  majemuk  dan  adakalanya sebuah  ocellus,  keduanya  berfungsi  untuk  menentukan  arah  terhadap  sumber cahaya dan  intensitas cahaya. Antenna pertama  (antenul) kecil  tidak  beruas-ruas dan  terletak  dibagian  ventral  kepala,  mengandung  setae  olfaktori  (pencium). Antenna kedua  besar,  sepasang, masing-masing  terdiri atas  sebuah  pangkal  ruas yang kuat dan bercabang dua menjadi sebuah  ramus dorsal  (ramus superior) dan sebuah  ramus ventral  (ramus  inferior). Pada setiap  ramus  terdapat setae berbulu.
Formula setaepada Daphnia ialah 0 – 0 – 1 – 3 / 1 – 1 – 3. artinya ramus dorsal terdiri  atas  4  ruas,  dimana  berturut-turut  dari  ruas  pertama  sampai  keempat terdapat 0, 0, 1 dan 3 helai  setae. Ramus  ventral  ada 3  ruas, pada  ruas  pertama, kedua dan ketiga masing-masing terdapat 1, 1, dan 3 helai setae. Antena kedua berfungsi sebagai alat  renang, dan cara berenang cladocera sangat  khas  yaitu  tersendat-sendat  (intermittently),  tidak  mulus  dan  gemulai seperti  branchipoda  yang  lain.  Beberapa  spesies  tidak  dapat  berenang,  tetapi merayap  karena  mereka  telah  beradaptasi  untuk  hidup  dan  serasah  daun  yang basah di naungan hutan tropis.
Semua kaki cladocera lebar dan pipih serta dilengkapi banyak rambut dan setae. Biasanya pasangan kaki pertama dan kedua berfungsi seperti  tangan, serta dapat  digunakan  untuk  berpegang  pada  substrat.  Bentuk  abdomen  tidak  jelas namun  dibagian  posterior  terdapat  post-abdomen  yang  besar  dan  dilengkapi  2 helai  setae  abdominal.  Di  ujung  post-abdomen  terdapat  sepasang  kuku  (claw). Pada  tepi  kuku  biasanya  terdapat  sederetan  gerigi,  digunakan  untuk  identifikasi spesies. Post-abdomen  berfungsi untuk membersihkan  sampah dan kotoran  yang menempel pada kaki serta membantu pergerakan. Spesies  daerah  limnetik  biasanya  tidak  berwarna  atau  merah  muda, sedangkan yang didaerah litoral, kolam dangkal dan dasar perairan berwarna lebih gelap bervariasi dari coklat kekuningan sampai coklat kemerahan, kelabu bahkan hampir hitam. Pigmentasi terdapat baik pada karapas maupun jaringan tubuh.
Mulut cladocera  terletak pada batas antara kepla dan badan. Makanannya antara lain protozoa, ganggang, detritus organik dan bakteri. Yang penting adalah ukuran partikel makanan. Makanan disaring dengan setae pada kaki dan dialirkan ke mulut. Makanan yang ditolak atau ukurannya terlalu besar disingkarkan dengan duri-duri  pada  pangkal  kaki  pertama,  kemudian  dibuang  menggunakan  post-abdomen. Beberapa genera seperti
Polyphemus dan Leptodora termasuk predator, kaki-kakinya  termodifikasi  untuk  menagkap  mangsa.  Polyphemus  biasanya terdapat di danau, kolam dan rawa-rawa, sedangkan Leptodora di daerah limnetik.
Cladocera  memegang  peran  penting  dalam  mata  rantai  makanan  di perairan tawar sebagai penghubung antara produsen primer dengan anak ikan dan hewan  air  lain  yang  karnivor.  Daphnia  dan Moina  banyak  dibudidayakan  dan diperdagangkan  sebahai pakan alami hidup untuk  ikan hias dan anak  ikan dalam pembenihan.  Selain  nilai  gizinya  bagus,  cladocera  mudah  ditangkap  anak  ikan karena berenangnya lambat.
2.3 Kelas Ostracoda
                 Semua  ostracoda  berukuran  kecil,  umumnya  kurang  dari  1 mm, meskipun  ada yang hampir 2 cm. Bentuk  tubuh bulat sampai  lonjong. Seluruh  tubuh  tertutup karapas yang  berbrntuk  2  keping  cangkang  dan  adakalanya mengandung  zat  kapur  dan  keras. Tiap kali molting, cangkang terkelupas dan diganti yang baru.
1.Morfologi
Ruas-ruas  tubuh  tidak  tampak  jelas.  Terdapat  6  atau  7  pasang  apendik  yang beruas-ruas  yaitu  antena  pertama,  antena  kedua,  mandibel,  maksila  pertama,  maksila kedua,  apendik  thorax  dan  caudal  furca.  Dibagian  anterior  terdapat  sebuah  mata nauplius. Mata  majemuk  hanya  ada  pada  ordo Myodocopida.  Antena  kedua  panjang berfungsi sebagai alat renang.
2. Fisiologi
Berbagai  cara makan  ada  pada  ostracoda.  Jenis  herbivora memakan  ganggang;  jenis  karnivora  memakan  crustacea  kecil,  siput  kecil  dan  anelida;  jenis  scavengers memakan  bangkai  dan  detritus  organik;  jenis  filter  feeder  menyaring  makanan. Gigantocypris  selain  memakan  crustacea,  dapat  menangkap  ikan  kecil  dengan antenanya. Kecuali beberapa  jenis, umumnya ostracoda bernapas dengan permukaan  tubuh Luminescence  terdapat  pada  3  jenis  Ostracoda  laut,  yaitu  Cypridina,  Vargula  dan Conchoecia. Cahaya kebiruan dipancarkan sekejap-kejap selama 1 sampai 2 detik. Reproduksi seksual, dioecious, terjadi kopulasi, pembuahan di dalam. Telur yang telah dibuahi dierami di bawah karapas atau dilekatkan pada subtrat atau tumbuhan air, satu  per  satu  atau  berkelompok.  Telur  menetas  menjadi  larva  nauplius  yang  juga mempunyai  2  keping  cangkang  seperti  induknya.  Cypridae  air  tawar  biasanya berkembang biak secara partenogenesis, dan pada beberapa spesies tidak pernah terdapat jantan. Ostracoda kurang disukai ikan hias
3. Klasifikasi Kelas Ostracoda
Umumnya berukuran 1 mm atau  lebih;  tubuh bulat sampai  lonjong, agak pipih; tubuh tertutup 2 keping cangkang (karapas) biasanya mengandung zat kapur; ruas tubuh tidak  jelas;  apendik  6  atau  7  pasang;  terdapat  2000  spesieshidup,  umumnya  di  laut, sebagian di air tawar; 10.000 spesies fosil.
-  Ordo 1. Myodocopa (Myopocopida)
Semua  di  laut;  bagian  anterior  cangkang  berlekuk;  antena  kedua  biramus  dan pangkal antena besar. Cypridina dan Conchoesia.
-  Ordo 2. cladocopa (Cladocopida)
Karapas tidak berlekuk; antena pertama dan kedua sebagai alat renang; antena kedua biramus; spesies laut; Polycope.
-  Ordo 3. Podocopa (Podocopida)
Antena uniramus; mempunyai 2 pasang apendik badan; di  laut dan air tawar; Cypris dan Cypricercus di air tawae; Cythereis di laut.
-  Ordo 4. Platycopa (Platycopida)
Antena  pertama  dan  kedua  besar  tetapi  bukan  alat  renang;  antena  kedua  pipih, biramus; spesies laut, semua termasuk satu-satunya genus Cytherella.
-  Ordo 5. Palaeocopida
Spesies fosil








BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Diversitas bioekologi crustaceae mencakup keragaman jenis dan interaksi antar      sesama spesies crustacea khususnya kelas Branchiopoda dan kelas Ostracoda
2. Kelas Ostracoda kebanyakan bentik, meliang dan ada juga yang hidup planktonik. Melimpah di seluruh perairan sampai pada kedalaman 7000 m. Beberapa hidup komensal pada Echinodermata dan crustacea lainnya.
3. Kelas Branchiopoda kebanyakan berukuran kecil, yang hidup di air tawar memiliki kaki berbentuk seperti daun.
3.2 Saran
            Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritikan sangat kami butuhkan demi mendukung terciptanya kesempurnaan makalah ini.












DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Notostraca, Cladocera, Anostraca, Choncostraca. www. asturnatura.com. diakses 27 September 2012
Aslan, M, L., Wa Iba., Kamri, S., Irawati., Subhan., Purnama, F, M., M., Jaya, I, M., Rahmansyah., Saputra, R., Tiar, S., Mulyani, T., Kasendri, R, A., Zhuhuriani, Riana, A. 2011. Penuntun Praktikum Avertebrata Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Haluoleo. Kendari.
Brusca. R.C. and G.J. Brusca., 1990.  Invertebrates Sinauer Associates. Inc Publisher, Sunderland. Massachm Setts. Hal 595-666
Hegner. W.R. 1968.  Invertebrates Zoology. Second Edition. Mac Millan Publishing. C.o.Mc. hal 396-443.
Pechnik. J.A., 1991.  Biology of The Invertebrates. Second Editions. Win.C. Brown Publishers, Dubuque. Hal 369-411.
Ruppert. E.E and R.D Barnes., 1994.  Invertebrates Zoology. Sixth Edition. Saunders College Publishing. Forth Worth. Hal 687-799.
Suhardi.,  2002. Buku Evolusi Avertebrata. Universitas Indonesia. Jakarta.
Suwignyo, S.B. WIdogdo. Y. Wardiatno dan M. Krisanti, 1998. Avertebrata Air. Jilid 2. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hal 239-287.